27 Steps of May, Film yang Mengisahkan Trauma Masa Lalu May

27 Steps of May

Peluh membasahi wajah May yang diperankan Raihaanun dalam 27 Steps of May. Kegiatan rutin setiap malam sebelum tidur yaitu lompat tali, sudah dilakukan. Esok paginya, May menyetrika baju sampai benar-benar rapi, kemudian menyisir rambutnya. Sebelum keluar kamar, biasanya May menghitung jumlah boneka yang berjajar di rak kayu.

Ketukan pintu kamar oleh Bapak (Lukman Sardi) menjadi penanda dimulainya aktivitas May hari itu. Bersama Bapak, May membuat baju boneka, kemudian mendandani boneka yang akan dibawa Kurir (Verdi Solaiman). Selain mendandani boneka, aktivtas lain May adalah makan makanan serbaputih yang dimasak Bapak.

Selama delapan tahun, May dan Bapak tak pernah bicara. Keduanya berinteraksi dalam sunyi. Tragedi kekerasan seksual yang dialami May saat berusia 14 tahun mengubah hidup May dan Bapak.

27 Steps of May dan Trauma Masa Lalu May

Bukan hanya May yang harus mengalami trauma berkepanjangan. Akan tetapi, Bapak juga harus menanggung rasa sesal mendalam. Sebagai orangtua tunggal, Bapak merasa gagal melindungi anak satu-satunya tersebut.

Di rumah, Bapak adalah sosok lembut dan sangat menyanyangi May. Dengan cekatan, dia mendandani boneka seperti mengepang rambut dan memakaikan baju yang telah dijahit May: Bapak menyalurkan emosi dan amarahnya di ring tinju atau arena berkelahi. Bapak kerap pulang dalam kondisi babak belur. Bagi Bapak, tinju adalah media pelampiasannya.

Suatu hari, hidup May berubah. Dinding kamarnya bolong akibat kebakaran yang terjadi di belakang rumah. Dari lubang itu, May mengintip karena didorong rasa penasaran. Apalagi, dia sering mendengar suara-suara dari ruangan sebelah.

Di balik dinding, seorang pesulap (Arib Bayu) sedang berlatih. Dia menciptakan bunga, burung merpati, dan menghilangkan koin. May senang melihat aksi sang pesulap. Bibir May tersenyum. Si Pesulap menyadari ada yang mengintip sehingga dia mendekati dinding untuk berkenalan dengan May. Namun, May belum siap berinteraksi dengan dunia di luar kamarnya.

Rasa penasaran yang terus membubung tinggi, membuat May akhirnya kembali mengintip. Sikap manis Si Pesulap membuat May luluh. Dia mau berinteraksi, tetapi tak bicara. Hanya gestur dan ekspresi yang menggambarkan cara komunikasi May.

Kehadiran Si Pesulap mengubah rutinitas May. Dia bahkan mengubah model baju boneka dan mau makan masakan beraneka rasa dan warna. Bapak tentu heran dengan perubahan sikap May. Akan tetapi. Kurir yang juga sahabat Bapak meyakinkan Bapak bahwa perubahan positif itu baik untuk May dan Bapak.

Sayangnya, perubahan positif May tak berlangsung lama. Sebuah kejadian yang membangkitkan kenangan buruk May membuat luka May kembali terbuka. Di sisi lain, Bapak kembali membabi buta di arena perkelahian ilegal.

Akankah Slay bisa berdamai dengan masa lalunya? Bagaimana hubungan May, Bapak, dan Pesulap?

27 Steps of May, Film Terbaik Minim Dialog

Mulai tayang Sabtu 27 April 2019 lalu, film “27 Steps of May” hadir bagai oase di antara gempuran “Avengers: End Game” yang menghabiskan nyaris seluruh layar bioskop Indonesia. Film arahan Ravi Bharwani ini mencuri perhatian pencinta film Indonesia sejak diganjar penghargaan Film Terbaik kategori film panjang di “Jogja-NETPAC Asian Film Festival”, November 2018.

Selain diputar di “Jogja-NETPAC Asian Film Festival”, film ini juga menyambangi sejumlah festival film internasional sejak Oktober 2018. Seperti “Busan International Film Festival”, “Cape Town International Film Market & Festival”, “Goteborg Film Festival”, dan “Bengaluru International Film Festival”.

Film yang diproduksi Green Glow Pictures dan didukung Go Studio ini membutuhkan waktu lima tahun untuk produksinya, mulai dari tahap riset sampai pascaproduksi.

Sutradara Ravi mengungkapkan, sebagai film yang minim dialog dan menitikberatkan elemen visual dalam bercerita, semua elemen ini harus dibuat dan ditata detail. Hal tersebut, kata Ravi, memerlukan ketelitian, kesabaran, dan waktu. Manajemen waktu ini yang menjadi tantangan paling berat. Ia bersyukur karena didukung tim yang solid sehingga bisa terlaksana dengan baik.

Penulis dan produser Rayya Makarim menyebutkan, kisah May sangat universal. Siapa saja bisa mengalami karena siapa saja bisa menjadi korban kekerasan seksual. Ia merasa beruntung film ini bisa dirilis ke penonton Indonesia saat isu kekerasan seksual sedang ramai, terutama di media sosial. Ide cerita film ini berangkat dari tragedi Mei 1998.

Tak berlebihan memang jika film ini mendapat predikat film terbaik di festival film. Pasalnya, cerita yang dihadirkan serta akting para pemerannya membuat film ini hadir sangat kuat. Dalam durasi sekitar 120 menit, penonton akan merasakan berbagai emosi seperti marah, sedih, dan terharu.

Di film ini, Raihaanun membuktikan diri sebagai aktor yang penuh totalitas. Sebagai (May yang minim dialog, Raihaanun berhasil menghadirkan karakter May yang memendam amarah dan kesedihan selama delapan tahun hanya dengan ekspresi wajah dan gestur tubuh. Bahkan, penonton akan dengan mudah tahu bahwa May jatuh cinta pada Si Pesulap tanpa perlu ada kata cinta atau perbuatan yang berlebihan.

Selain Raihaanun, aktor Lukman Sardi juga sukses menampilkan akting terbaiknya. Ekspresi marah, kecewa, bingung, dan terharu hadir lengkap tanpa cacat lewat Lukman. Dia juga berhasil meyakinkan penonton sebagai sosok yang jago berkelahi di ring tinju legal maupun arena ilegal.

Tanpa perlu banyak pesan nan menggurui lewat dialog penuh basa-basi, film ini memotret kondisi sebenarnya terkait korban kekerasan seksual. May menjadi contoh, betapa trauma dan depresi akibat kekerasan seksual bisa berlangsung bertahun-tahun bahkan seumur hidup.

Bagi perempuan, laki-laki, anak, dan orangtua, film ini menjadi sangat penting untuk ditonton. Pasalnya, masih banyak yang menganggap korban dan pelaku kekerasan seksual adalah sesuatu yang biasa dan tak perlu dilakukan tindakan hukum atau disembuhkan baik fisik dan mental. [Sumber: Windy Eka Pramudya]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Author: Maman Soleman

Blogger & Content Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *