Arti Kata Emak-emak dalam Sudut Pandang Bahasa Indonesia

Entah mengapa, sebuah kata atau istilah akhir-akhir ini bisa menjadi viral dan dipakai dalam berbagai medsos ataupun media cetak. Jika diteliti, kenapa semua orang begitu peka untuk memakai atau menggunakan kata/istilah yang sebetulnya tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia? Setiap kata tentunya memlliki arti atau makna agar bisa diterima oleh pembaca atau pendengar.

Dalam sudut pandang berbeda, karena kebutuhan. kepentingan dan tujuan, sering kali orang berkreasi dalam penggunaan kata yang sebetulnya tidak baku dalam tatabahasa (gramatikal) bahasa Indonesia. Sebuah contoh di sini, kata “emak-emak” menjadi objek kata yang sangat sering kita dengar, tetapi sesungguhnya telah melemahkan subjek kata itu sendiri.

Kata “emak” berasal dari mak, imak (perempuan; ibu). Kata ini sangat umum dipakai dalam kehidupan masyarakat di beberapa daerah, seperti. Jakarta (Betawi), Jawa (jawa), Sumatra (Minang, Batak), dan lain-lain daerah. Sebagai contoh dalam kalimat: “Kamu masih gadis, kenapa berani ngajarin emak?” Ini adalah kalimat sehari-hari yang tentunya tidak baku dalam penggunaan bahasa Indonesia karena tidak menggambarkan tata bahasa dan tekstur kata yang benar. Makna kata dalam kalimat ini dapat bersifat adjektif, sekaligus nomina verba yang tidak bersifat kata kerja (verba).

Yang membuat lebih prihatin, pengembangan kata ini dalam pemakaian bahasa sehari-hari menjadi kata duplikasi (pengulangan) yang semakin membiaskan makna kata dasar bahasa. Kata “”emak-emak” dianggap menjadi sekumpulan ibu, atau orang perempuan yang sesungguhnya tidak ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata ini lebih condong digunakan dalam kamus gaul, sehingga tanpa disadari pengikisan bahasa Indonesia, dengan penggunaan kata tidak baku semakin berkembang pesat yang digunakan dalam masyarakat luas.

Dalam definisi lain, kata “emak” ini juga sama maknanya dengan kata “mak; mbok; nyak” yang merupakan serapan dari bahasa daerah. Artinya untuk saat ini, terlepas dari rasa suka atau tidak suka, kata “emak-emak” akibat adanya pergeseran nilai dari konteks sosial dari pengaruh dinamika politik yang berkembang secara dinamis, maka kata ini dianggap popular.

Memang sungguh dilematis, di kala pendidikan formal dituntut untuk meluruskan kata-kata baku agar sesuai dengan pedoman ejaan yang disempurnakan, di sisi lain harus berbenturan dengan kondisi masyarakat yang bertolak belakang.

Terlepas dari konteks politik di negeri ini, maka untuk menjaga eksistensi budaya bangsa yang berbasis pada penggunaan kata yang baik dan benar, perlu ada suatu rumusan konsep secara formal untuk memberi filter pada pendidikan formal, terutama agar konsep tata bahasa dalam pendidikan tetap dipertahankan. Memang persoalan ini juga cukup berat jika hanya mengandalkan para pendidik dan guru.

Kata ”emak-emak” memang tidak punya dampak secara negatif pada perkembangan Kamus Besar Bahasa Indonesia, tetapi minimal bisa mengurangi persepsi berbeda antara penggunaan bahasa dalam pendidikan formal dan non formal. Karena unsur kata yang terserap atau teradopsi dari bahasa daerah, juga memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian budaya bangsa. [Vito Prasetyo]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Author: Maman Soleman

Blogger & Content Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *