Berwisata ke Pemukiman Suku Bajo di Wakatobi

Pemukiman Suku Bajo di Wakatobi

Mendengar nama Wakatobi, imajinasi kita akan tertuju pada pesona bawah laut yang sangat eksotis dengan terumbu karang alami dan hamparan pantai yang menyejukkan mata. Padahal, ada pesona lain yang tak kalah menarik, yaitu Suku Bajo.

Wakatobi adalah kependekan dari nama empat pulau besar; Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dam Binongko. Kabupaten ini terletak di Propinsi Sulawesi Tenggara.

Dulu, Wakatobi dikenal dengan nama Kepulauan Tukang Besi. Penduduk asli Wakatobi adalah Suku Bajo, yang tersebar di Kecamatan Wangi-wangi Selatan (23,37 persen), Kecamatan Wangi-Wangi (19,05 persen), Kecamatan Kaledupa (17,86 persen), Kecamatan Tomia dan (15,01 persen), dan sisanya di Kecamatan Binongko.

Keunikan Tradisi

Suku Bajo kaya tradisi akan keunikan. Salah satunya, mereka menolak tinggal di daratan. Perahu adalah alat transportasi, tempat tinggal, alat mencari nafkah. Laki-laki Suku Bajo menangkap ikan dan menjualnya ke pasar. Perempuan menenun untuk membantu ekonomi keluarga.

Dua kain tradisional Suku Bajo paling populer adalah Ledja dan Kasopa. Keduanya bermotif khas Bajo, dan dijajakan ke wisatawan.

Suku Bajo menolak kehadiran mesin-mesin modern untuk memproduksi kain. Mereka percaya kesetiaan pada tradisi dan kearifan lokal yang membuat merka bertahan hidup.

Kearifan lokal Suku Bajo pula yang membuat ekosistem Wakatobi terjaga. Suku Bajo tidak mengambil lebih dari yang diperlukan, dan mengembalikan sesuatu yang dianggapnya belum pantas diambil.

Misal, mereka hanya mengambil ikan yang berusia dewasa dan membiarkan ikan-ikan kecil tumbuh besar, dan beranak pihak. Mereka tidak akan mengambil ikan yang mulai langka. Mereka tidak mengambil ikan yang memasuki siklus musim kawin dan bertelur, untuk menjaga keseimbangan populasi dan regenerasi.

Petarung di Laut Lepas

Suku Bajo adalah petarung di laut lepas, tapi santun kepada semua orang yang berkunjung ke Wakatobi. Mereka menyambut wisatawan dengan ritual khas, dan memandu siapa pun yang ingin berenang bersama lumba-lumba dan diving.

Wisatawan bisa mengenal lebih dekat dengan mengunjungi kampung masyarakat pengembara laut atau sea gypsy. Pagi sampai siang, wisatawan bisa menyusuri jalan-jalan sempit dan berbaur dengan masyarakat Suku Bajo.

Orang dewasa menjemur hasil tangkapan berupa ikan dan teripang. Ada yang membuat perahu. Anak-anak bercanda ria, memainkan permainan tradisional seperti egrang.

Sambil berjalan-jalan, wisatawan juga bisa membeli hasil kerajinan warga berupa kacamata renang, kerajinan dari kerang, tas, dompet hingga sarung khas Bajo.

Menjelang sore, wisatawan siap-siap mendapatkan sensasi yang tak terlupakan yakni bersampan ke Desa Mola Nelayan Bakti dan mendatangi keramba, memancing, melihat kehidupan nelayan mengolah hasil laut seperti ikan dan lobster untuk diekspor.

Saat matahari bersiap-siap kembali ke peraduannya, perahu akan menyusuri kanal-kanal memasuki perkampungan suku Bajo. Sepanjang sore, biasanya warga duduk-duduk di depan rumah mereka yang menghadap kanal sambil sesekali menyapa wisatawan yang lewat.

Malam hari, wisatawan bisa mengunjungi Pasar Malam di Desa Mola Selatan yang menjajakan beragam makanan khas Bajo Mola, seperti nasi jagung, kasuami (berbahan singkong), cendol berbahan keladi, bulu babi, teripang dan berbagai ikan bakar yang disantap dengan sambal colo-colo.

Jika hari cerah, di dermaga wisatawan akan mendapat cerita tentang bintang, yakni manfaat berbagai benda langit yang selama ratusan tahun menjadi panduan suku Bajo mengarungi lautan dan mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi mereka.

Wakatobi kini satu dari 10 Destinasi Prioritas, dan diprediksi menjadi pendukung target 20 juta wisman pada tahun 2019. Berbagai infrastruktur dari dan ke destinasi pariwisata di Wakatobi, termasuk ke perkampungan Suku Bajo, terus dibangun.

Bandara Matohara, misalnya, terus dikembangkan dan kini telah bisa melayani penerbangan dari Makassar, Kendari, dan kota-kota lainnya. Amenitas; berupa resor, hotel, dan fasilitas lainnya, akan segera hadir di Wakatobi.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya optimis Wakatobi akan menjadi destinasi kelas dunia. Alasannya, komitmen pemimpin daerah atau CEO commitment. Bupati Ir. Hugua membangun pariwisata dari nol dan mempromosikannya. Ia mencari tanah untuk pembangunan bandara, dan membebaskannya. Ia meletakan batu pertama pembangunan, kendati hanya disaksikan tiga orang.

Soal atraksi, jangan diragukan lagi. Wakatobi memang sangat menarik bagi wisman. Kini tinggal menata amenitas dan akses, serta komitmen pemimpinnya.

Menpar Arief Yahya berpesan semua pihak menjaga keselaran ekosistem alam. Menurutnya, alam yang semakin lestari kian menyejahterakan.

Wakatobi punya Suku Bajo, yang memiliki kearifan lokal dan sekian ratus tahun melestarikan alam. Suku ini adalah kekayaan lain Wakatobi yang dipastikan akan mengundang banyak wisman.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Author: Maman Soleman

Blogger & Content Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *