Biomassa Energi Terbarukan Untuk Masa Depan Yang Baru

Biomassa Energi Terbarukan Untuk Masa Depan Yang Baru

Biomassa Energi Terbarukan Untuk Masa Depan Yang Baru – Bahan bakar minyak (BBM) merupakan salah satu sumber energi utama yang digunakan sejak dulu. Hingga saat ini, penggunaan BBM masih sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya yaitu sebagai bahan bakar kendaraan. Sayangnya, BBM bukanlah energi terbarukan. Sehingga diperkirakan sumber energi ini akan habis dalam kurun waktu 20 tahun mendatang. Hal ini terjadi karena produksi besar-besaran minyak bumi oleh negara-negara penghasil minyak bumi, khususnya negara-negara Timur Tengah beberapa tahun silam. Namun, hal ini dapat dikendalikan oleh Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) dengan mengeluarkan peraturan pembatasan produksi minyak bumi bagi suatu negara. Oleh karena itu, diperlukan adanya energi alternatif lain yang bersifat terbarukan serta dapat menggantikan kebutuhan akan energi yang tersedia dalam jumlah terbatas. Energi terbarukan ini menjadi salah satu pilar dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang sedang digalakkan oleh dunia saat ini. Prinsip dari pembangunan bekelanjutan yaitu memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan masa depan.

Menurut Dr. Ir. Bambang Susilo, M.Sc. Agr, dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), energi terbarukan yang digalakkan dunia saat ini diantaranya yaitu bioenergi yang bersumber dari biomassa dan energi surya yang bersumber dari sinar matahari langsung. Energi surya hanya bekerja optimal pada tempat (negara) dengan iklim tropis yang terkena sinar matahari sepanjang tahun. Bagi negara dengan empat musim, penggunaan energi surya tidak dapat dilaksanakan secara optimal dikarenakan intensitas cahaya matahari yang hanya berlangsung selama 3 bulan. Maka, ditemukanlah energi alternatif lain yaitu dengan menggunakan biomassa. Negara yang mempunyai sumber biomassa terbesar saat ini yaitu Brazil, Zaire dan Indonesia. Jenis energi ini dapat diperoleh dari limbah organik, seperti dedaunan kering, kotoran hewan, dan kotoran manusia.

Biomassa dan Pemanfaatannya

Bioenergi ini disebut juga biogas atau bioethanol, yang nantinya diperkirakan akan menghasilkan solar dan bensin. Biogas atau bioethanol tersebut diperoleh melalui proses anaerob yang menghasilkan CH„ secara alami. Seperti yang telah diketahui, gas metan ini merupakan salah satu penyebab gas rumah kaca, sehingga berbahaya jika dilepas ke udara bebas dalam jumlah besar. Namun, dalam hal ini gas metan dapat digunakan dalam pengolahan bioenergi. Pak Bambang menjelaskan bahwa pengolahan bioenergi dapat memanfaatkan gas metan menjadi bahan bakar, dimana produk akhir yang dihasilkan yaitu C02 dan H20. Hasil dari pengolahan bioenergi yang berupa C02 akan lebih ramah lingkungan karena dapat masuk ke dalam siklus karbon. Teknologi yang digunakan dalam pengolahan bioenergi ini tergolong sederhana, yaitu teknologi penampungan dan penyaluran. Sedangkan ampas dari limbah organik yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pupuk organik.

Namun, pemanfaatan energi terbarukan ini memiliki kendala yang harus dihadapi, yaitu modal. Dalam pelaksanaan pengolah bioenergi ini, modal yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Permasalahan modal inilah yang menyebabkan terhambatnya pelaksanaan energi terbarukan, khususnya di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Walaupun terhalang oleh modal, terdapat solusi mengenai pelaksanaan energi terbarukan bagi Indonesia. Solusi tersebut yaitu dengan diterapkannya desentralisasi pengolahan produk pertanian, di mana pengolahan bioenergi dilakukan di tiap desa atau daerah. Selain itu, pelaksanaannya dilakukan secara sederhana.

Pada upaya ini, produksi tidak hanya berupa bahan mentah saja, melainkan dilakukan pengolahan terlebih dahulu sebelum diekspor. Kita dapat memfasilitasi peralatan yang dibutuhkan dalam proses pengolahan dengan harga yang murah, yaitu membuat sendiri peralatannya dengan barang-barang yang sederhana. Namun, penerapan ini masih menemukan kendala, diantaranya yaitu masyarakat masih belum memahami akan pentingnya energi terbarukan serta belum memiliki wawasan yang cukup dalam pelaksanaannya. Kendala inilah yang membuat masyarakat cenderung beranggapan negatif mengenai pelaksanaan energi terbarukan dikarenakan energi ini bersumber dari limbah. Selain itu, kurangnya tenaga ahli menjadi tantangan lain dalam penerapan desentralisasi ini.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Author: Maman Soleman

Blogger & Content Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *