Gawai Bisa Membuat Siswa Kesulitan Belajar

Gawai Bisa membuat Siswa Kesulitan Belajar

Saat ini, pelajar tak bisa lepas dari gawai (gadget), entah untuk bermain game maupun update status di media sosial. Dampak keranjingan gawai tidak sebatas fisik, tapi juga kesulitan belajar.

Kesulitan dalam pelajaran bagi generasi pelajar mestinya bisa dideteksi secara dini. Agar saat anak-anak masuk ke dunia perkuliahan tanpa harus putus studi karena kesulitan dalam pelajaran bisa diantisipasi di sekolah.

Masalah dalam belajar yang dialami siswa ditunjukkan dengan hambatan yang muncul sehingga berdampak pada hasil belajar, hambatannya bisa bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis. Kesulitan dalam pelajaran bisa muncul dalam bentuk learning disorder, learning disfunction, underachiever, slow learner, dan learning disabilities.

Kecanduan Gawai

Gawai menjadi salah satu pemicu timbulnya kesulitan belajar. Banyak siswa yang kecanduan memegang perangkat mereka meski dilarang dibawa ke sekolah.

Saat siswa mengalami kesulitan dalam belajar, dia akan menampakkan gejala yang harus diamati orangtua dan guru. Di antaranya, prestasi belajar rendah, lambat mengerjakan tugas, menunjukkan sikap yang kurang wajar seperti acuh, berdusta, mudah tersinggung, dan mengasingkan diri dari kawan-kawan sepermainan.

Pengajar di SMA Al-Irsyad Satya, Ani Diana Mulyati mengakui pernah menangani siswa yang kesulitan dalam pelajaran gara-gara gawai. Dia tak bisa fokus mengerjakan tugas. Ternyata, main games online di telefon genggam. Hal itu membuat pola tidur berubah dan belajar tak bisa konsentrasi.

Penanganan

Penanganan anak yang mengalami kesulitan dalam belajar karena terlalu terikat dengan gadget perlu dilakukan menyeluruh. Sekolah melarang siswa membawa telefon, tetapi mereka banyak meluangkan waktu di rumah tanpa pengawasan orangtua. Peran orangtua dibutuhkan untuk memastikan perangkat itu digunakan anak sesuai dengan usia dan kebutuhan.

Hal serupa dialami pengajar SMAN 3 Bandung M. Muhajirin. Kesulitan dalam belajar menyebabkan siswa kurang terlatih dalam menjalankan ujian. Jadi, dampaknya bukan sesaat melainkan hingga hasil akhir kalau tidak dilakukan intervensi.

Perlakuan kepada siswa yang mengalami sulit belajar tergantung peran guru yang memahami kondisi siswa. Guru harus membuka jalur komunikasi dengan siswa. Mereka akan terbuka dan bisa dibantu untuk keluar dari kesulitan dalam belajar.

Akhirnya, peran moral dalam kehidupan sangat penting ketika nilai-nilai tersebut telah tertanam dengan baik di kalangan siswa. Gawai menjadi positif bila digunakan untuk menunjang pendidikan. Siswa mesti didorong untuk mengendalikan gawai, bukan sebaliknya.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Author: Maman Soleman

Blogger & Content Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *