Kampung Kuta, Sisa Kerajaan Galuh yang Pegang Teguh Budaya Adat Leluhur

Kampung Kuta, Sisa Kerajaan Galuh yang Pegang Teguh Budaya Adat Leluhur

Kampung Kuta adalah kampung adat yang beralamat di Dusun Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis. Kampung itu terdiri atas 2 RW dan 4 RT. Cukup jauh dari ingar-bingar perkotaan di ujung timur Jawa Barat yang berbatasan dengan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Hingga kini masyarakatnya masih teguh memegang budaya adat leluhur, dengan jumlah penduduk yang tetap tidak lebih dad 300 jiwa sejak dahulu. Kampung Kuta memiliki cerita sejarah yang melegenda, sisa dari Kerajaan Galuh dengan rajanya, Prabu Ajar Sukaresi. Kata Kuta berasal dari “Mahkuta” atau “Mahkota” dan bisa juga berarti pagar dari tebing tanah.

Peninggalan Kerajaan Galuh

Kerajaan Galuh merupakan salah satu kerajaan Hindu yang pernah berjaya di Jawa Barat. Kabarnya, pusat kerajaan atau ibu kota Kerajaan Galuh akan didirikan di wilayah Karangpaningal tempat Kampung Kuta berada. Karena terjadi banjir dari Sungai Cijolang, rencana itu pudar. Beberapa peninggalan atau petilasan Kerajaan Galuh diyakini warga masih tersimpan di sana, disebut ancepan. Ada Leuweung Gede atau hutan keramat yang memiliki banyak pantangan dan menyimpan sejarah persiapan ibu kota Kerajaan Galuh yang ditinggal begitu saja di sana.

Warga percaya di hutan itu tersimpan pusaka kerajaan dan tempat bersemayamnya leluhur mereka. Hutan keramat tak bisa dimasuki sembarang waktu dan memiliki aneka larangan seperti tidak boleh mengganggu hewan, membawa sesuatu dari dalam hutan, dilarang meludah, dilarang gaduh, dilarang memakai pakaian dinas, harus menjaga kebersihan, harus melepas alas kaki, dan dilarang membawa perhiasan juga tas.

Pegang Teguh Budat Adat Leluhur

Aktivitas warga didominasi kegiatan agraris dengan komoditas utama adalah padi dan gula aren. Warga Kuta membawa hasil panennya ke pasar juga ke luar kota. Aliran listrik sudah masuk ke kampung ini sejak 1996 yang memungkinkan warga menikmati aneka peralatan elektronik.

Namun, warga Kampung Kuta tetap mempertahankan bangunan rumah panggung yang berbahan dasar kayu dan bambu. Dalam adatnya, mereka tidak diperbolehkan membangun rumah bertembok. Hal itu demi menjalankan amanah yang sudah dilakukan secara turun-temurun. Warga Kampung Kuta meyakini bila ada salah seorang warga memaksa membangun rumah dari tembok, akan mendapat musibah.

Rumah-rumah panggung memiliki keseragaman dalam bentuk dan pantangannya. Rumah kayu dan bambu itu bentuknya persegi panjang, tidak boleh menyiku, tidak boleh menggunakan genting, melainkan atap jure yang terbuat dari daun kirai atau injuk. Tiang rumah didirikan di atas alas batu yang disebut tatapakan dan dindingnya dari bilik bambu atau papan kayu.

Salah satu ritus adat paling menyedot perhatian masyarakat adalah ritus nyuguh yang diadakan setiap bulan Maulud. Warga kampung adat memberi sesaji yang juga merupakan ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan. Juga sebagai suatu upacara permohonan agar dihindarkan dari malapetaka yang menimpa masyarakat. Namun, sistem religi masyarakat Kampung Kuta yang terutama adalah Islam dengan pengaruh kepercayaan.

Pusat sarana dan prasarana adat di sana bernama Bumi Pasanggrahan. Di dekatnya terdapat Tugu Kalpataru setinggi kurang lebih dua meter sebagai penanda bahwa pemangku adat kampung di sini pernah dianugerahi hadiah Kalpataru sebagai penyelamat hutan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2002. [Sumber: E Saepuloh/PRM/28-04-2019]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Author: Maman Soleman

Blogger & Content Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *