Mencegah Penyakit Jantung dengan Pola Hidup Baik

Penyakit jantung koroner menjadi penyebab kematian utama di dunia. Angkanya terus meningkat. Tahun 2001 tercatat sebanyak 7,2 juta kematian akibat penyakit jantung. Di 2020 diperkirakan mencapai 11,1 juta kematian. Bagaimanakah cara mencegah penyakit jantung?

Prevalensi penyakit jantung di negara maju berkurang. Hal itu seiring dengan tingkat edukasi tentang hidup sehat yang meningkat. Sebaliknya, sekitar 80% kasus baru justru terjadi di negara berkembang. Salah satunya Indonesia.

Mencegah Penyakit Jantung

Lebih dari 80 persen kasus penyakit jantung sebenarnya dapat dicegah dan cara mencegah penyakit jantung adalah dengan pola hidup yang baik dan seimbang. Seperti tidak merokok, berolah raga teratur, mengonsumsi makanan sehat dan seimbang, serta mengendalikan stres.

Namun, penyakit jantung juga bisa menghampiri karena didapat sejak lahir dan tidak berkait dengan pola hidup yang keliru. Misalnya, penyakit gangguan irama jantung. Sakit jantung bawaan juga bisa merunut pada sumber genetik.

Potensi terkena penyakit jantung semakin besar jika memiliki orangtua laki-laki yang mengidap penyakit jantung di atas usia 55 tahun atau dari orangtua perempuan yang menderita sakit jantung di atas usia 65 tahun.

Mereka yang mulai terserang penyakit tidak menular, yang di dalamnya termasuk penyakit jantung, juga bergeser ke usia yang lebih muda. Jika dahulu orang terkena penyakit jantung pada usia 60 tahun, sekarang umum dijumpai pada orang berusia 40 tahun.

Ada beberapa gejala yang khas dalam kasus penyakit jantung, baik yang menimpa orang lanjut usia maupun dengan usia muda. Kelelahan tanpa sebab termasuk salah satu gejala mayor yang dialami pasien sakit jantung. Ciri-ciri ini mudah dikenali. Bila sering kelelahan meski tidak beraktivitas berat, itu bisa jadi gejala awal yang mengindikasikan sakit jantung. Bahkan, rasa lelah ini juga kerap dirasakan saat bangun tidur. Penjelasannya karena aliran darah ke tubuh terganggu akibat jantung bekerja dengan berat untuk memompakan darah.

Selanjutnya, keluhan penyakit arteri koroner adalah adanya nyeri dada atau sekitarnya. Terasa seperti ditindih beban berat sehingga pasien tidak bisa menunjukkan bagian yang spesifik untuk rasa sakitnya.

Rasa nyeri tersebut bisa menjalar ke lengan, punggung, bahkan rahang sehingga penyakit jantung yang diderita menjadi tersamarkan. Malah kadang bisa nyeri di ulu hati, seolah terkena maag atau masuk angin.

Yang lebih detail, rasa sakit ini biasanya berlangsung 5-15 menit. Jika lebih dari 15 menit disertai keringat dingin membasahi baju juga mual dan muntah, sebaiknya segera ke UGD terdekat.

Akan tetapi, tidak semua nyeri di dada menjadi gejala penyakit jantung koroner. Sebaiknya, keluhan yang terasa di dada tidak diabaikan begitu saja.

Penyakit jantung juga bisa disertai dengan sesak napas. Semakin berat aktivitas maka sesak semakin terasa. Bahkan jika pasien sampai harus tidur dalam posisi duduk agar tidak sesak, bisa jadi gejala sakit jantung.

Gejala lainnya yaitu dada berdebar. Sebagian besar pasien sakit jantung dengan gejala dada berdebar karena irama jantungnya terganggu dan bersifat bawaan. Nadi yang berdetak terlalu lambat (saat istirahat denyutnya kurang dari 60 kali per menit) atau nadi yang terlalu cepat (saat istirahat mencapai lebih dari 100 kali), sebaiknya memeriksakan irama jantungnya.

Pasien bisa saja mengalami pingsan. Yang khas dari pasien jantung adalah setelah pingsan, ia bisa pulih spontan dalam hitungan menit. Sebelumnya, banyak diketahui pasien akan mengalami dada berdebar.

Berikutnya adalah gejala minor dalam sakit jantung antara lain mengalami pembengkakan. Jantung yang kurang baik atau terdapat kelainan pada katupnya bisa ditandai dengan pembengkakan pada pergelangan kaki juga perut. Berat badan bisa naik drastis dalam tiga hari dan jika ditekan terasa lembek karena berisi cairan.

Gejala minor lain adalah telapak tangan yang kerap berkeringat. Itu terjadi karena pasokan darah yang dipompa jantung tidak sampai ke jaringan perifer.

Jika mendapati salah satu atau beberapa gejala tersebut, sebaiknya memastikan ke dokter. Jika sudah didiagnosis penyakit arteri koroner, serangkaian tindakan dapat dilakukan. Misalnya, jika terjadi gangguan irama jantung, salah satunya bisa dipasang pacu jantung.

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan tes jantung seperti EKG, dengan echo, atau treadmill. Jika dipastikan terdapat sumbatan pada pembuluh darah jantung, bisa dilakukan kateterisasi. Bisa dengan pasang ring atau operasi by pass.

Selain itu, disarankan untuk periksa berkala bagi yang sudah berusia di atas 40 tahun. Bagi wanita, risiko terkena penyakit jantung bisa lebih rendah, selama belum menopause. Itu karena pada wanita ada hormon estrogen yang menjadi antiradang yang melindungi pembuluh darah sehingga menangkal kolesterol.

Jika sudah menopause, penyakit jantung yang terjadi pada perempuan bisa jadi lebih berat. Sebab utamanya karena lambat terdiagnosis dan disertai banyak faktor risiko seperti obesitas, kolesterol tinggi dalam darah, serta kurangnya aktivitas fisik. [Eva Fahas/Maman Soleman/PRM/18082019]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Author: Maman Soleman

Blogger & Content Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *