Mengenal Keeksotisan Batik Cirebon

Selain masyhur karena kuliner pusaka, Cirebon juga dikenal dengan batiknya. Ada beberapa keunikan batik cirebon yang tidak dimiliki sentra lain. Tak heran, ragam motif dan warna batik Cirebon konsisten menjadi salah satu dan tertua dari empat sentra industri batik Jawa Barat, selain Indramayu, Tasikmalaya, dan Garut.
Seperti pola penyebaran yang terjadi pada batik solo dan batik yogyakarta, batik cirebon pertama kali muncul di lingkungan dalam keraton. Perkembangannya kemudian menyebar ke luar keraton oleh para abdi dalem yang bertempat tinggal di luar keraton. Oleh karena itu, seni yang awalnya dipelajari untuk mengisi waktu senggang itu dimulai dari gaya keratonan.

Ciri Batik Cirebon

Batik cirebon memiliki beberapa keunikan. Antara lain, jika satu daerah dikenal dengan satu jenis batik, keratonan atau pesisiran, Cirebon memiliki keduanya. Hal itu disebabkan posisi Cirebon yang berada di pesisir, yang berbatasan langsung dengan pantai utara. Cirebon juga memiliki dua keraton, yaitu Keraton Kanoman dan Kasepuhan.
Warna batik keratonan biasanya krem atau warna tipis, sedangkan warna motifnya hitam, biru tua, dan cokelat (soga) seperti batik solo dan batik yogyakarta, yang didominasi warna soga. Motifnya diilhami oleh benda-benda yang ada di keraton dan sekitarnya, seperti naga, keris, atau bagian dari bangunan keraton.
Sementara itu, batik pesisiran biasanya memiliki warna yang lebih cerah seperti merah, biru, hijau, kuning, ungu, oranye, dan semacamnya. Motifnya didominasi oleh flora dan fauna. Misalnya bunga teratai, taman laut, dan sebagainya. Batik pesisiran biasanya dimiliki oleh daerah yang berada di sekitar pesisir, seperti Madura dan Pekalongan.
Yogyakarta dan Solo memang punya pantai, tetapi bukan merupakan jalur niaga, makanya gaya yang dimiliki kedua daerah itu keratonan saja. Berbeda dengan Cirebon yang memiliki keduanya, karena memiliki keraton dan berada di pesisir yang aktif sebagai jalur perdagangan.
Selain itu terdapat ciri khusus batik cirebon yang tidak ditemui pada motif batik lain, yaitu keberadaan garis tipis atau kecil yang diistilahkan sebagai wit. Garis itu semacam kontur atau tali air (lunglungan) yang digoreskan relatif tipis, kecil, dan halus, yang warnanya lebih tua dari warna dasar kain.
“Wit hanya ditemukan pada batik cirebon dan popokan (Jawa), tetapi hanya dapat dikerjakan oleh perajin batik cirebon. Meskipun demikian, sebenarnya wit telah ditemukan pada batik kuno, meskipun batik-batik itu ada pula yang berasal dari luar Cirebon, seperti batik pekalongan dan madura. Perbedaannya hanya terletak pada kontur garis dan bisa dibedakan oleh ahli batik dari cara atau teknik membatik.
 

Mengikuti zaman

Di Cirebon, masih ada perajin batik yang setia dengan pakem tradisional, dengan membuat desain batik tulis sesuai dengan rentetan filosofinya dan dikerjakan dengan tangan. Meskipun demikian, penyesuaian desain pun sering kali dilakukan sesuai dengan tuntutan pasar.
Batik mega mendung apik merekam perkembangan itu. Sebagai salah satu motif batik khas Cirebon yang paling banyak dikenal, mega mendung dulu dan sekarang bisa dibedakan secara kasat mata. Pertampakan kini jauh lebih sederhana, dibandingkan dengan kedalaman filosofinya.
Motif mega mendung diartikan seperti cuaca yang sedang mendung. Seperti motif batik lain yang memiliki filosofi, makna yang tersimpan di dalam mega mendung adalah manusia harus mampu meredam amarah atau emosinya dalam situasi dan kondisi apa pun, seperti awan yang muncul saat cuaca mendung yang dapat menyejukkan suasana di sekitarnya.
Kalau dulu, mega mendung memiliki tujuh gradasi warna, yang maknanya diambil dari lapisan langit yang memiliki tujuh lapis. Begitu juga dengan bumi yang tersusun dari tujuh lapisan tanah, dan jumlah hari dalam seminggu yaitu tujuh hari. Goresan tangan untuk mega mendung pun tak terputus sehingga selalu diakhiri ke titiknya berasal.
Awalnya, warna mega mendung juga selalu berunsurkan warna biru yang diselingi merah tua. Kedua warna itu menggambarkan maskulinitas dan suasana dinamis karena dalam proses pembuatannya ada campur tangan laki-laki. Warna biru dan merah tua juga menggambarkan psikologi masyarakat pesisir yang lugas, terbuka, dan egaliter. Bagaimana dengan sekarang?
Sekarang gradasi warna batik mega mendung telah disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Dengan demikian, gradasinya dapat dikurangi atau diminimalkan menjadi tiga hingga lima gradasi sesuai dengan pesanan. Ada juga yang maksimal lima saja. Bahkan sudah ada juga batik mega mendung yang sengaja tidak diberi gradasi warna pada motif awannya karena tuntutan pasar.
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Author: Maman Soleman

Blogger & Content Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *