Menyoal Kualitas Guru Indonesia

Dengan mengkaji pada hasil uji kompetensi guru 2014 lalu oleh Kemendikbud, lebih dari 1,3 juta guru dari total 1,6 juta guru yang mengikuti uji kompetensi ternyata memiliki nilai ujian di bawah 60 dari rentang 0 hingga 100. Berdasarkan hasil ujian ini, hanya 192 guru, sebagian besar guru SMP, yang mencapai nilai 90-100. Masih banyak persoalan yang masih membelit dunia pendidikan saat ini yang salah satunya bersumber pada belum meratanya kualitas dan kompetensi kaum guru. Demikian pula pada aspek kesejahteraan, misalnya, kehidupan guru masih banyak yang belum sejahtera. Jadi tidak heran, peningkatan kesejahteraan adalah isu klasik yang terus berulang sepanjang masa.

Meningkatkan Kualitas Guru

Idealnya, kita ingin terus mengingatkan guru untuk menjadi pembelajar serta saling belajar dan berbagi pengalaman praktik terbaik. Dengan menjadi pembelajar, guru akan bisa meningkatkan kompetensi diri dan kualitas pembelajaran di kelas. Spirit, ini yang kemudian harus ditularkan kepada peserta didik di kelas atau sekolah. Kita ingin kembali mengkaji ihwal keberadaan kaum guru, mereka yang memiliki peran vital dalam keseluruhan sistem pendidikan di sebuah negara. Guru berperan dalam menyebarkan pesan moral, norma, dan nilai, baik di dalam maupun di luar kurikulum pelajaran atau lembaga pendidikan, yang saat ini ditetapkan oleh pemerintah melalui Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Dengan demikian, harapan besar pun senantiasa disematkan pada pundak para guru ini. Setiap guru ditantang menjadi teladan yang berintegritas. Tidak lebay bila kita menyatakan bahwa kelangsungan masa depan anak muda Indonesia agar mampu bersaing dengan bangsa lain, ada di pundak guru. Para guru tidak boleh tertidur untuk berkarya serta terus mengembangkan metode pembelajaran yang bisa mendorong peserta didik mereka untuk terus aktif dan berpikir kritis. Bekali anak Indonesia dengan kreativitas dan juga budi pekerti. Guru berperan menyampaikan ilmu-ilmu yang dimiliki kepada muridnya. Guru merupakan salah satu sumber belajar muridnya. Berasal dari gurulah, murid diajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Tidak bisa dimungkiri pula dari gurulah murid mendapat pengetahuan baru dan pendidikan karakter. Guru sebagai orangtua kedua yang ada di sekolah setelah orangtua kandung di rumah.

Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia

Ekspektasi demikian memang mewakili harapan semua pihak agar ke depan penyiapan kompetensi dan kualitas sumber daya manusia Indonesia bisa dilakukan seoptimal mungkin. Salah satunya, bahkan paling utama, terletak pada peran strategis para guru sebagai pendidik yang mulia. Pada beberapa tahun terakhir ini, memang terjadi perubahan cukup signifikan terkait dengan kesejahteraan guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Pelaksanaan program sertifikasi guru sedikit banyak sudah mengangkat tingkat kesejahteraan kalangan guru saat ini. Kita secara objektif bisa melihatnya secara kasat mata.

Namun demikian, pemerataan tingkat kesejahteraan ini belum merata hingga menyentuh guru, honorer dan guru yayasan. Sedangkan aspek kualitas guru, program sertifikasi ternyata tidak serta merta mendongkrak peningkatan kompetensi kaum guru. Seolah terjadi praktik moral hazard, seakan-akan yang dikejar hanya tunjangan sertifikasi, tetapi di sisi lain kualitas dan kompetensi justru menjadi terpinggirkan. Di sinilah kemudian terletak urgensi pelaksanaan program uji kompetensi guru (UKG) yang baru-baru ini diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Persoalan lain menyangkut keberadaan guru yang seharusnya segera diselesaikan adalah kekurangan guru, terutama kekurangan guru SD yang sangat besar. Kemudian nasib guru honorer yang penyelesaiannya tidak jelas. Hak-hak guru honorer yang secara eksplisit diatur dalam PP Nomor 74 Tahun 2008 juga agak terabaikan, pencairan tunjangan profesi yang selalu terlambat, bahkan persyaratannya semakin sulit dan tidak wajar merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan segera. Dalam filosofi pendidikan inklusif, guru dipandang sangat berperan dalam menyebarkan pesan moral, norma, keramahan, dan nilai-nilai/baik di dalam maupun di luar kurikulum pembelajaran atau lembaga pendidikan. Dengan demikian, harapan besar pun senantiasa disematkan pada pundak para guru yang ramah dan menghargai keberagaman (inklusi). Setiap guru semakin ditantang menjadi teladan (vortitid) yang berintegritas pada usia 72 tahun Indonesia merdeka.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Author: Maman Soleman

Blogger & Content Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *