Mimpi Terbang ke Baitullah

Mimpi Terbang ke Baitullah

Pada suatu malam, bulan Ramadan tahun lalu, Onin menonton acara salat Tarawih di sebuah televisi swasta, yang ditayangkan langsung dari Masjidilharam, Mekah. Saat melihat acara tersebut, bulu kuduknya berdiri. Air matanya menetes perlahan, betapa ingin ia ada di sana. Berhadap-hadapan langsung dengan Baitullah, rumah suci yang dibangun oleh Nabi Ibrahim as dan putranya Nabi Ismail as.

Menurut salah satu riwayat, begitulah cerita tentang Baitullah dibangun. Sementara itu, dalam riwayat yang lain, rumah suci tersebut didirikan oleh Nabi Adam as bersama Malaikat Jibril pada zamannya, yang dalam perjalanannya kemudian terkubur oleh debu waktu. Nabi Ibrahim as dan putra tercinta, Nabi Ismail as membangun kembali rumah suci itu di tempat yang sama, dengan cara menggali fondasi Baitullah yang telah didirikan oleh Nabi Adam as, lalu membangunnya kembali.

Dalam tayangan televisi yang ditontonnya itu, Onin melihat juga sekelompok jemaah tengah melakukan tawaf. Sesaat kemudian, Onin ke kamar mandi, bersuci. Setelah itu balik lagi melihat tayangan tersebut. Sementara anak-anak dan istrinya tengah lelap tidur di kamarnya masing-masing. Pada saat itu, Onin mengucap syahadat, dilanjutkan dengan membaca surah Al-Ikhlas sebanyak-banyaknya, ditutup dengan membaca slawat. Di akhir selawat, ia berdoa kepada Allah swt, agar dirinya diberi kesempatan bemarah ke Baitullah.

Kegiatan semacam itu lakukannya selama satu minggu, hingga pada suatu hari di bulan suci Ramadan tahun itu juga ia mimpi ada di Baitullah, ikut tawaf bersama barisan para jemaah, yang entah datang dari mana saja. Mimpi ini tidak ia sampaikan kepada siapa pun, kecuali kepada istrinya. Saat itu ia bilang, betapa ingin dirinya ziarah ke Baitullah. Istrinya, menatap tajam, lalu tersenyum. “Ya, sama!” jawabnya. Kemudian istrinya berdoa, dan Onin mengamini.

Ketika Bulan Haji tiba, Onin kembali menyaksikan sejumlah tayangan liputan ibadah haji, yang disiarkan langsung dari Masjidilharam dan Masjid Nabawi. Suara talbiah yang menggema, yang diucap oleh para calon jemaah haji membuat hatinya bergetar dan meneteskan air mata. Keinginan untuk ziarah ke Baitullah makin kuat dan menggelora. Namun secepat itu ia menyadari, dari mana uangnya?

“Saya bukan termasuk golongan orang kaya. Jangankan untuk ongkos terbang ke Mekah, untuk biaya sekolah anak-anak dan kehidupan sehari-hari pun sangat pas-pasan. Harga-harga melambung tinggi, sedangkan pendapatan tidak bisa mengimbangi naiknya harga-harga,” keluh Onin, sambil mengusap dadanya, dan berdoa semoga Allah memberikan jalan kepadanya untuk bisa terbang, ziarah ke Baitullah.

Setelah musim ibadah haji berlalu, Onin kembali larut dalam kegiatan sehari-hari, gentayangan ke sana kemari mencari berita yang layak tulis dan layak muat untuk sebuah koran lokal di kotanya. Ia bekerja di koran itu sejak Oktober 1989, bekerja sebagai wartawan lepas. Baru pada tahun 1994 diangkat sebagai karyawan tetap.

Dalam menjalankan tugas sebagai wartawan, antara lain Onin pernah meliput bidang pendidikan, seni, dan yang paling menjengkelkan adalah meliput kasus-kasus hukum yang digelar di Pengadilan Negeri Kota Bandung. Kesal, sebab latar belakang pendidikan Onin bukan hukum, tetapi teater. Dalam kaitan itu, terpaksa Onin belajar hukum sekadarnya. Hikmahnya Onin jadi semakin hati-hati nulis berita. Soalnya takut kena masalah, diseret ke meja hijau.

Waktu bergulir dengan amat cepatnya. Memasuki tahun berikutnya, seperti biasa Onin bekerja sebagaimana adanya. Obsesi ingin ziarah ke Baitullah kian menguat di dalam dirinya hingga pada suatu malam di bulan April yang lengang Onin menulis sebuah puisi di bawah ini:

Jemplang Karang

Akankah aku sampai ke Baitullah?
betapa kedalaman tetw kalbuku serupa cermin retak,
yang kusam oleh detik jam.
Sekali lagi, aku bertanya,
akankah aku sampai ke Baitullah
: sebelum maut kembali bicara
“sayangku, waktumu tiba!”

Setiap membaca puisi itu, ada kalanya Onin merenung. Onin merasa bahwa kematian akan lebih dulu tiba menjemput dirinya, dan untuk itu ia tak akan pernah sampai di Baitullah. Untuk mengobati kerinduan melihat Baitullah dan menyaksikan orang-orang yang tawaf di Baitullah, Onin membeli VCD Manasik Haji. “Saya sering menyetelnya pada larut malam, ketika anak-anak sudah tidur. Sering melihatnya dengan istri saya,” ujarnya, pada sahabatnya Mira pada suatu hari. Doa pun kembali dipanjatkan.

***

Awal bulan Mei tahun berikutnya, ketika Onin tiba di kantor redaksi tempat ia bekerja, ia dipanggil oleh Wakil Pimpinan Redaksi Koran Lokal H Landung ke ruang kerjanya. Dalam bayangan Onin pada saat itu, paling diberi tugas untuk meliput acara kesenian, atau mungkin diberi tugas lainnya. Setelah Onin masuk ke dalam ruang kerjanya, dan duduk di sebuah kursi yang ada di depan meja kerjanya, ia menatap Onin dan bertanya seperti biasanya. Pertanyaan itu Onin, jawab seperti biasanya juga.

Setelah itu, ruangan terasa hening sesaat.

“Mau umrah enggak?” tanya H Landung. Kata-kata itu diucapnya dengan jelas, dan hati Onin berguncang dengan keras. Onin seperti tidak percaya mendengar tawaran semacam itu. “Umrah?” jawab Onin, balik bertanya.
“Ya!” tutur H Landung, singkat.

Seketika itu Onin menganggukkan kepala. Tapi kemudian ia segera menyadari keadaan, dari mana uangnya?. “Jangan pikirkan soal biaya. Ini gratis, hadiah dari kantor,” ujar H Landung, seakan bisa membaca apa yang tengah dipikirkan Onin. Tentu saja mendengar penjelasan semacam itu. Onin sangat kaget sekaligus gembira. Air matanya menetes. “Alhamdulillah, Engkau sungguh telah menjawab keinginanku Ya Allah,” doa Onin saat itu.

Memang setiap tahun, Koran Lokal tempatnya bekerja memberangkatkan sejumlah orang untuk melaksanakan ibadah umrah, dan itu khususnya di Bagian Redaksi, diperuntukkan bagi para wartawan senior. Sedangkan Onin belum masuk hitungan senior, sebab di atas Onin juga masih banyak yang belum bisa berangkat umrah.

“Apa pun alhamdulillah. Saat itu, betapa ingin Onin berangkat dengan istri, sayangnya Onin tidak punya uang meski hanya untuk membeli satu tiket saja. Onin pada saat itu berangkat dengan teman sekantor, Abah Soemantri.

Ketika berita tak terduga itu disampaikan Onin kepada istrinya, istrinya girang bukan kepalang. “Bersyukurlah. Doakan Ibu di sana, agar suatu hari bisa datang lagi ke tempat yang mulia itu bersama Ibu,” tutur istrinya.
“Ya,!” jawab Onin.
Dalam benaknya terbayang Baitullah, terbayang makam Rasulullah yang ada di Masjid Nabawi yang sering dilihatnya di televisi. Membayangkan semua itu, air matanya menetes lagi. Lalu ditelepon Ibunya di kampung, bahwa Onin akan terbang ke Baitullah menunaikan ibadah umrah. Ibunya menangis mendengar kabar itu, lalu turut mendoakan Onin. “Jangan lupa berdoa Untuk Bapak yang telah tiada di sana,” ujar Ibunya, dengan suara menahan tangis. “Ya Allah, sungguh indah rencana-Mu. Tiada aku bersyukur atas nikmat dan karunia-Mu ini,” batin Onin. Cahaya bulan terasa berkilauan di kalbu Onin.*** [SONI FARID MAULANA]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Author: Maman Soleman

Blogger & Content Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *