Misteri Jejak Ban Mobil

Betapa senangnya aku ketika ayah dan ibu mengizinkanku ikut Kak Bagas, kakakku, melakukan perjalanan bersama teman-teman sekampusnya ke kawasan hutan lindung di kawasan Jawa Tengah. Aku boleh ikut karena kebetulan letak tempat kegiatan Kak Bagas dekat dengan rumah Mbah Anom, kakek yang dulu mengasuh ayah saat berusia sepuluh tahun. Sekalian bersilaturahmi, ayah menyuruhku tinggal di tempat Mbah Anom, sambil menunggu Kak Bagas selesai dengan kegiatan dari kampusnya.

Baru dua hari tinggal di tempat Mbah Anom, aku sudah merasa betah. Selain karena keramahan Mbah Anom dan keluarganya, juga karena desa tempat Mbah Anom tinggal cukup asri. Hampir setiap pagi, aku mendengar cicit burung hinggap di ranting pohon, beriringan dengan sinar matahari yang masuk ke celah-celah jendela kamar yang kutempati. Suasana damai ini membuatku ingin mengelilingi kampung untuk menikmati keindahan lingkungan.

“Kalau mau keliling kampung diantar Le Dudung,” kata Mbah Anom.

Sepanjang perjalanan, Le Dudung banyak menceritakan kehidupan penduduk di kampung.

“Sejak ada pabrik keramik yang berdiri tak jauh dari kampung, sering terdengar suara bising truk pabrik pada malam hari melintasi kampung,” kata Le Dudung.

“Ini adalah sumber air bagi penduduk kampung. Dari sungai ini, perkebunan jeruk Mbah Anom diairi” kata Le Dudung ketika kami sampai di sungai besar.

Saat menikmati pemandangan sungai, tiba-tiba mataku menangkap jejak-jejak roda mobil yang cukup besar saling bertumbukan, sepertinya jejak tersebut sering melewati tempat itu. Padahal, di ujung jejak tidak ditemukan jalan lain yang bisa dilintasi mobil. Karena penasaran, aku mengajak Le Dudung mengikuti perputaran jejak-jejak itu. Ternyata jejaknya berakhir di semak belukar. Aku heran, begitu pula Le Dudung.

“Dulu ada jalan setapak di sekitar tempat ini menuju hulu sungai tempat para petani mengontrol kondisi air. Jalan itu kini hilang tanpa jejak, ungkap Le Dudung.

“Ayo kita amati jejak mobil ini sambil mencari jalan setapak yang hilang itu,” kataku.

Lagi-lagi kami menemui jalan buntu. Jejak itu berhenti di depan rerimbunan semak belukar. Penasaran, Le Dudung lalu mengayunkan parangnya memotong semak-semak. Olala hanya dalam sekali tebas, semak-semak pun terangkat semua, dan tampak jalan setapak di bawah semak-semak. Ternyata semak-semak itu tidak tertanam kuat, hanya ditancapkan dan diikat satu sama lain untuk menutupi jalan setapak yang diceritakan Le Dudung. Kami kemudian menyusuri jalan setapak itu. Betapa kagetnya kami saat tiba di ujung jalan.

“Lihat, banyak cairan berwarna-warni dan berkilat-kilat seperti mengandung bensin atau sejenisnya. Ini seperti warna limbah pabrik yang sering kulihat di kota. Cairan limbah ini dari pabrik keramik. Lihat ada beberapa drum berstempel pabrik itu,” kataku.

“Iya. Pantas saja di sungai kini jarang ditemukan ikan. Jeruk di perkebunan Mbah Anom pun rasanya menjadi agak masam. Ternyata selama ini, pihak pabrik membuang limbahnya ke sungai. Padahal itu merupakan sumber air warga,” kata Le Dudung.

Segera aku dan Le Dudung melaporkan hal ini pada Mbah Anom. Hal itu membuat geram Mbah Anom dan aparat kampung. Sontak mereka beramai-ramai mendatangi jalan setapak itu sambil menggiring pemilik pabrik ke tempat tersebut. Aparat kepolisian juga berdatangan, pemilik pabrik ditahan bersama beberapa drum sebagai barang bukti. Ternyata truk yang selama ini beroperasi pada malam hari dan dikira warga sebagai truk pengiriman keramik adalah truk pembuang limbah ke sungai. Warga benar-benar geram karena merasa ditipu.

Walau kasusnya belum tuntas, kini Mbah Anom sedikit lega karena warga mulai aktif mengadakan ronda malam untuk menghindari terulangnya kejadian yang mengancam kehidupan kampung tersebut.

Tak terasa kegiatan Kak Bagas dengan teman-teman sekampusnya berakhir. Aku dijemput Kak Bagas untuk kembali pulang. Aku berpamitan tidak hanya pada Mbah Anom dan Le Dudung, tetapi pada seluruh warga kampung yang telah begitu ramah menerimaku.

“Atas nama warga, kami mengucapkan terima kasih atas penemuan ini karena sangat berarti bagi penyelamatan sumber air warga,” kata Pak Lurah.

Akupun tersenyum bahagia dengan beberapa kantung berisi oleh-oleh yang diberikan warga kepadaku. (Cerita Pendek : Raihan W)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Author: Maman Soleman

Blogger & Content Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *