Pada Sebuah Auman, Sajak Kupu-kupu Riang, Kekinian

Pada Sebuah Auman

Singa mengaum di pinggir kota
getarannya menyeruduk begitu saja
ke dalam sanubari yang berlanjut pada rasa takut
Aku serta merta ada di dalam auman
hingga tak ada lagi takut dan gentar
karena kini getaran-getaran itu hanyalah angin
yang mendorong maju tubuhku melayang
hingga mampu menggapai batang pohon di seberang kali
yang kotor oleh catatan-catatan basi tentang kegagalan
di masa yang kelam

Sajak Kupu-Kupu Riang

Aku baru saja jengkel
karena kembali berulang peristiwa itu
di mana aku gagal mencium sayap kupu-kupu muda
yang riang dan selalu menjenguk saat kududuk di ruang tamu
Gerah sudah cuaca pada hari Senin
biarlah kulepas setelan jas ini yang hanya bisa memantulkan
sekelebat fatamorgana orang sukses di muka cermin
Kumau ikuti saja kupu-kupu kemanapun ia melayang
tak perduli mendung ataupun panas
sampai ia hinggap dan bisa kucium sayapnya
agar tertular keriangan itu padaku

Kekinian

Kekinian baru saja hilang tertinggal di belakang
dan tak lagi bisa dirasa karena saat kuberucap
bahwa ini adalah cerita kekinian maka saat itu juga berubah
menjadi masa lalu
Aku ingin sesekali meminta waktu untuk berhenti sejenak
dan beristirahat agar rasa kekinian ini bisa berlangsung lebih lama
atau setidaknya menjumputnya sedetik, ketitik di mana kududuk kini dan mengatakan padanya: jangan cepat-cepat pergi.

Fritz Hendrik Nino, lahir di Yogyakarta 2 Mei 1962. Cukup aktif’menulis puisi sejak di bangku kuliah. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak. Kini tinggal di Kota Bandung.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Author: Maman Soleman

Blogger & Content Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *