Situ Lengkong Panjalu, Perpaduan Objek Wisata Alam dan Wisata Budaya di Ciamis

Situ Lengkong merupakan danau yang berada di ketinggian 731 meter di atas permukaan laut, sebelah utara Kabupaten Ciamis. Dari pusat kabupaten, Situ Lengkong berjarak 35 kilometer ke arah perbatasan Kabupaten Majalengka dan Kuningan. Danau ini bertempat di Kecamatan Panjalu. Ada pula yang menyebutnya Situ Panjalu. Situ Lengkong sangat berkaitan erat dengan cerita rakyat kawasan Panjalu dan sekitarnya. Danau ini merupakan saksi berdirinya Kerajaan Panjalu, yang bermula dari kebataraan atau kawasan pertapaan sejak abad ke-7 Masehi.
Situ Lengkong bisa disebut paduan destinasi wisata alam dengan wisata budaya. Di tengah-tengah danau terdapat pulau kecil seluas 9,25 hektare yang dikenal dengan sebutan Nusa Larang atau Pulau Larangan. Penduduk sekitar menyebutnya Nusa Gede. Di sinilah terdapat makam pendiri Kerajaan Panjalu serta sanak keluarga. Baik di area hutan Nusa Larang maupun di sekitar danau pengunjung disarankan tidak berperilaku dan berkata kasar.
Situ Lengkong dikukuhkan selaku kawasan cagar budaya sejak zaman kolonial Belanda. Menurut Besluit van den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch Indie Nomor 6 tanggal 21 Februari 1918, area itu disebut Natuurmonument. Nusa Larang dinamakan Pulau Koorders, dan dihuni oleh ribuan kelelawar besar atau kalong, yang bergelantungan terbalik di atas pohon sekitar pulau. Penetapan kawasan cagar budaya terhadap Situ Lengkong dilakukan sebagai bentuk penghargaan pada Dr Sijfert Hendrik Koorders, ahli botani yang merupakan pendiri sekaligus ketua pertama Nederlandsch Indische Vereeniging tot Natuurbescherming atau Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda yang berdiri 1863. Koorders memelopori registrasi beragam jenis pohon di Pulau Jawa. Di area hutan Nusa Gede, masih terdapat pepohonan langka dan dilindungi, di antaranya Kondang (Ficus variegata), Kileho (Sauraula sp), dan Kihaji (Dysoxylum).
Objek wisata Situ Lengkong memiliki luas 57,95 hektare dengan kedalaman 4-6 meter. Pengunjung juga dapat menyewa perahu untuk mengelilingi pulau sembari melihat aneka fauna dan flora. Bisa juga berziarah ke tengah pulau. Setelah itu, pengunjung dapat menyantap ikan bakar khas Panjalu, mulai dari ikan mujair atau nila, mas, lele, hingga gurame, di pinggir danau.
Situ Lengkong tak terlepas dari mitos. Alkisah, air danau berasal dari tumpahan air zamzam yang dibawa Raja Panjalu, Prabu Borosngora. Sang Prabu membawanya dari Mekah dengan keranjang berlubang-lubang sesuai dengan syarat dari sang guru bahwa ilmu yang dituntutnya sudah pari purna. Prabu Borosngora menumpahkan air zamzam tersebut ke Lembah Pasir Jambu. Secara ajaib, lembah itu bertambah aimya, lalu terjadilah danau yang disebut Situ Lengkong.
Di objek wisata itu, masih bisa disaksikan berbagai benda purbakala seperti menhir, batu penyucian, batu penobatan, naskah dan perkakas peninggalan raja-raja Panjalu. Upacara adat yang dilaksanakan setiap bulan Maulud di Panjalu “Nyangku”, berkaitan erat dengan Situ Lengkong. Prosesi pencucian benda-benda pusaka peninggalan Raja Panjalu, harus dibawa dulu ke Situ Lengkong dan Nusa Larang.
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2

Author: Maman Soleman

Blogger & Content Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *